Jumat, 24 Agustus 2012

Pembunuhan Ustad Anggota DI

Sore itu tanggal 22 Agustus 2012 selepas solat ashar, saya, Bapak dan kedua adik saya berangkat ke makam Kakek. Ini adalah kali pertama saya diajak sama Bapak untuk ziarah ke makam Kakek kandung saya, biasanya hanya ziarah ke makam Kakek sambung Bapak yang memang letaknya satu kampung dengan tempat tinggal saya.

Jaraknya lumayan jauh, kira-kira 8 kilo dari tempat tinggal saya, tepatnya di desa Karang Asem, kelurahan Galuh Timur kecamatan Tonjong. Setelah sampai di makam, seperti biasa Bapak langsung memimpin tahlil dan doa-doa almatsurat, kami pun mengikuti dan mengamininya. Sesaat saya mengamati suasana makam yang menurut saya memang jarang sekali saya lihat. Makam Kakek hanya seorang diri, tanpa ada makam-makam lainnya. Tempatnya pun bukan di pemakaman umum, melainkan tepat di pinggir rel kereta api bahkan tak jauh dari makam terdapat papan bertuliskan “Tanah milik PT KAI”. Sebuah keadaan yang membuat saya menyimpan banyak pertanyaan.


Tahlil dan pembacaan doa almatsurat pun selesai dilaksanakan. Bapak bergegas dan mengajak kami ke rumah orang yang diamanati Bapak untuk merawat makam Kakek. Tak jauh dari pemakaman kakek, kami pun datang ke tempat Bapak Tomat sambil membawa bingkisan yang telah dipersiapkan Bapak. Kebetulan pada saat itu Bapak Tomat sedang mempunyai hajatan pernikahan putranya. Bapak Tomat adalah pensiunan pegawai PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang dahulu menjaga rel disekitar desa tersebut.

Perbincangan pun dimulai, diawali dengan perkenalan bersama Bapak Tomat dan kedatangan kakak Bapak Tomat bernama Haji Syahroni yang berumur 76 tahun.

PENCULIKAN ANGGOTA DARUL ISLAM (DI TII)

Pada sebuah malam di bulan Ramadhan kurang lebih 62 tahun yang lalu, tepatnya di sebuah desa kecil bernama desa Benda, kecamatan Sirampog, kabupaten Brebes.  Telah terjadi penculikan terhadap dua orang ustad yang juga hafiz al quran. Penculikan terjadi kala mereka sedang memberikan ceramah pada santri-santri di Pondok Pesantren Al Hikmah Benda. Kedua ustad tersebut bernama ustad Tabroni dan Turmudi.

Ustad Tabroni adalah seorang ustad yang memiliki 3 orang istri dan 5 orang anak serta 1 orang calon anak yang sedang dikandung oleh istri mudanya bernama Asyiah. Sedangkan ustad Turmudi juga merupakan seorang ustad asli dari desa Benda.

Keduanya diculik oleh tentara Brawijaya, setelah mereka mendapatkan informasi dari seorang anggota OPR (atau sering disebut “Handra”, pada zamannya) bernama Bapak Zein. Bapak Zein menuduh bahwa ustad Tabroni dan Turmudi adalah penyokong gerakan politik Darul Isam (DI), dimana gerakan tersebut berencana untuk membangun Negara Indonesia menjadi Negara berlandaskan teokrasi islam. Tanpa konfirmasi dan bukti yang nyata kedua ustad tersebut diculik dan tidak ada seorang pun yang tahu pada saat itu kemana mereka dibawa.

Konon OPR tersebut paling ditakuti di desa Benda pada zamannya. Bahkan saking ditakutinya, orang-orang yang dimintai tolong sama beliau pasti akan menurutinya. Lain halnya dengan kedua ustad tersebut, mereka tidak menuruti apa yang Bapak Zein inginkan, sehingga kedua ustad tersebut dituduh sebagai penyokong DI tanpa bukti yang nyata.

SEBUAH PENANTIAN PANJANG MENEMUKAN SOSOK BAPAK

Beberapa bulan sejak kejadian tersebut, Nyonya Asyiah melahirkan anak ustad Tabroni. Beliau terlahir tanpa seorang Bapak. Karena sampai dengan kelahirnnya, sang ustad pun tak kunjung pulang. Bahkan tersiar kabar bahwa kedua ustad tersebut dibunuh oleh tentara Brawijaya di sebuah desa yang juga merupakan markas tentara Brawijaya. Anak tersebut dinamai Mahfud Yazid.

Dalam perjalanan hidupnya, Mahfud Yazid mendapatkan Bapak sambung bernama ustad Masyrab, dan diberikan saudara seibu sebanyak 6 orang. Nyonya Asyiah menikah kembali karena ustad Tabroni tak kunjung pulang dan sudah dipastikan meninggal dunia.

Nyonya Asyiah memang seorang pendisiplin dan berpendirian keras, ditangan beliau Mahfud Yazid bisa menamatkan sekolah sampai dengan tingkat Madrasah Aliyah. Setelah tamat, Mahfud Yazid mencoba merantau ke Jakarta dengan berjualan Es Skoteng, bersama teman satu kampungnya demi untuk membiayai orang tua dan adik-adiknya. Namun usaha merantaunya hanya berjalan beberapa tahun, Mahfud Yazid pun kembali ke kampung halaman.

Tak lama dari kepulangannya, Mahfud Yazid berkenalan dengan ustad Asrori, seorang anak dari orang yang berada di desa tersebut bernama Haji Hasan. Mahfud Yazid diajak ke rumah Bapaknya, dan ternyata Bapaknya mengangkat Mahfud Yazid menjadi anak angkatnya, mungkin  karena keibaannya terhadap kondisi keuangan keluarganya. Mahfud Yazid pun diasuh mereka sambil membantu dagangan-dagangan ustad Asrori.

Dalam hidupnya Mahfud Yazid selalu merindukan Bapaknya. Walaupun tidak pernah melihat wajahnya, akan tetapi kerinduan selalu terpancar dalam hatinya untuk menemukan sang Bapak walaupun dalam keadaan meninggal. Kabar meninggalnya ustad Tabroni memang dibenarkan oleh seorang kiyai bernama KH Ali Asyari, yang konon pada saat itu menjabat sebagai lurah desa Benda.

Mahfud Yazid dinikahkan oleh Bapak angkatnya dengan salah seorang gadis yang tak jauh dari rumah Bapak angkatnya. Namun hal tersebut hanya berlangsung beberapa hari, karena ternyata sang mertua perempuan tidak berkenan dengan keadaan ekonomi Mahfud Yazid yang hanya seorang guru swasta di Pon Pes Al Hikmah. Sampai pada suatu saat Mahfud Yazid dikenalkan kembali oleh kakak angkatnya dengan seorang gadis bernama Ziyadah Sakinah, putri seorang pedagang beras di desa tersebut.

Dalam perjalanan rumah tangganya, Mahfud Yazid dan Ziyadah Sakinah insya Alloh termasuk dalam orang yang diberkahi oleh Alloh SWT. Bahkan tidak lama dari kelahiran anak pertamanya, Mahfud Yazid dan istri menambah penghasilannya dengan membuka warung kecil-kecilan yang dimanage oleh sang istri serta tambahan menarik ojek di malam hari selepas mengajar dengan motor bututnya.

Keberkahan terus tercurahkan, sampai pada akhirnya dipanggil oleh Alloh SWT pada tahun 1989/1990 untuk memenuhi rukun islam yang ke 5 di Baitulloh.  Mahfud Yazid beserta istri pun berangkat dan pulang dengan selamat, karena pada saat itu telah terjadi peristiwa terowongan mina yang menewaskan ribuan orang. Pada saat melaksanakan ibadah haji, Mahfud Yazid secara tidak sengaja bertemu dengan seorang yang berangkat dari desa seberang. Beliau bernama Haji Wajri. Dan karena kebesaran Alloh lah, doa Mahfud Yazid untuk bertemu dengan sang Bapak mulai menemui titik terang. Haji Wajri bercerita tentang pengalaman saat kecilnya, ketika melihat dua orang ustad dari desa Benda yang ditembak oleh tentara Brawijaya didepan matanya. Kejadian tersebut juga disaksikan oleh seorang keamanaan desa “Bau” dan beberapa anak kecil salah satunya adalah Haji Syahroni yang kala itu sedang pulang sekolah, ketika duduk sebagai siswa Sekolah Rakyat (SR). Mahfud Yazid pun menangis dan bersujud kepada Nya karena jalan petunjuk yang diberikan.

PEMBUNUHAN DUA ORANG USTAD KARENA FITNAH

Haji Syahroni yang kami temui pada saat itu menceritakan kronologi kejadiaan sebenarnya. Pada desa tersebut terdapat 3 orang tawanan, 2 ustad dan  1 orang santri yang tidak diketahui darimana asalnya. Sebelum pembunuhan itu terjadi, anggota tentara Brawijaya menghubungi Bau untuk mengurus jenazah tersebut.

Datanglah seorang Bau dan beberapa warga salah satunya bernama Haji Wajri. Ketika sampai ditepi rel, tanpa panjang lebar tentara Brawijaya menembak 2 orang ustad di sebelah kanan rel dan 1 orang santri di sebelah kiri rel. Ke 2 ustad tersebut tersungkur dan seorang santri tersebut terjebur di selokan. Sekelompok tentara tersebut meninggalkan mayat begitu saja dan menyerahkannya ke Bau. Kejadian tersebut membuat orang yang melihatnya ketakutan dan sekaligus sedih. Mereka berinisitif mengubur ketiganya, dengan membuat lubang seadanya (konon tidak terlalu dalam). Seorang santri di kubur di selokan tersebut, sedangkan dua orang ustad di kubur dalam satu liang lahat.

MAKAM DUA KALI BERSINAR

Bapak Tomat bercerita bahwa makam tersebut pernah dua kali diperbaiki karena batu nisan (tenger) yang memang dibuat secara sederhana hilang karena tertimbun tanah. Berdasarkan penuturan seorang warga yang menyewa tanah di area tanah milik PT KAI tersebut, telah dua kali melihat sinar diatas makam tersebut. Saya tidak tahu apa pertanda tersebut, tapi saya yakin bahwa kedua ustad dan seorang santri tersebut insya Alloh masuk kedalam surganya Alloh, karena tergolong mati syahid.

KELUARGA BAHAGIA

Kini Mahfud Yazid telah dikaruniai 6 orang anak, 2 diantaranya meninggal saat masih bayi. Saya adalah anak ketiga dari pasangan Mahfud Yazid dan Ziyadah Sakinah dan telah menikahi cicit dari Bapak angkat Mahfud Yazid bernama Vicky Urwatun Wutsqo. Kebanggan saya rasakan karena telah menjadi anggota dari keluarga mereka, Alhamdulillah. Dan konon berdasarkan informasi yang saya terima dari beberapa sesepuh di desa Benda, diantaranya adalah KH Abdul Qodir, Haji Muhammad dll. bercerita bahwa wajah almarhum ustad Tabroni mirip sekali dengan saya. Bahkan menurut cerita almarhumah nenek saya (Asyiah), masa kandungan ustad Tabroni sama dengan masa kandungan saya, kami berada diperut ibu selama 11 bulan, Subhanalloh.

==

Tulisan ini adalah sebuah cerita yang saya terima dari berbagai sumber. Saya kaitkan menjadi satu dengan tujuan untuk menjadi kenangan atau sejarah bagi keluarga kami. Tidak ada niat dan maksud apa pun dalam tulisan ini, hanya ibrah kebaikan yang saya harapkan tercurah kepada diri dan pembaca cerita ini.

1 komentar:

  1. Siang pak, mau tanya bagaimana cara mengirim daun sirsak kering ke tujuan Amerika, apakah ada syarat-syarat tertentu untuk proses pengirimannya. Saya berencana kirim lewat EMS. Terimakasih sebelumnya

    BalasHapus

Recent Posts

Recent Comment

Popular Posts

KenaliDia.Com